Rembuknas, Ajang Harapan untuk Lebih Baik

Depok – Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2012 mengundang 980 pengelola pendidikan dan kebudayaan dari berbagai wilayah Indonesia. Mereka yang hadir dalam Rembuknas 2012 ini mencapai lebih dari 1000 orang, termasuk pejabat unit utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, atase pendidikan dari berbagai negara, dan perwakilan dari UNESCO. Berbagai peserta dari berbagai wilayah, datang membawa pula berbagai harapan untuk masa depan pendidikan dan kebudayaan Indonesia yang lebih baik.

Dalam Rembuknas 2012, selain Dinas Pendidikan, diundang juga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, yang secara fungsi kembali bergabung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bergabungnya kembali Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ini diikuti pula dengan harapan baru. Misalnya bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau, R. M. Yamin, mengatakan, dia sengaja datang sendiri ke Rembuknas, tidak mengirim perwakilan, karena ada harapan yang dibawanya dari Riau. “Karena misi kami adalah tahun 2020 menjadikan Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, di tingkat internasional. Jadi banyak hal-hal yang harus kita lakukan,” ujarnya. Yamin menjelaskan, untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan koordinasi dari daerah dan pusat. Yamin juga berharap, Rembuknas bisa menjadi ajang silaturahim supaya terjalin hubungan yang baik  antarpengelola pendidikan dan kebudayaan se-Indonesia, sehingga dapat memperlancar koordinasi dalam bekerjasama.

Sementara harapan dari dunia pendidikan di luar negeri pun juga ada. Misalnya dari Ramon Mohandas, Atase Pendidikan di Den Haag, Belanda. Ramon mengatakan, dalam Rembuknas akan dilakukan diskusi khusus antarsesama atase pendidikan. Mereka akan membahas bagaimana peran atase pendidikan di negaranya masing-masing, dan memberikan masukan untuk meningkatkan layanan pendidikan di wilayah kerjanya. “Yang sedang banyak dibicarakan itu pengembangan sekolah Indonesia yang ada di luar negeri. Den Haag termasuk salah satunya. Kalau di Den Haag misalnya, menginginkan bagaimana sekolah di Den Haag itu bisa dikembangkan menjadi sekolah internasional. Bagaimana dengan Kemdikbud, apakah mau diambil alih atau bagaimana, itu yg penting untuk dibahas,” jelas Ramon, yang sudah 10 kali mengikuti Rembuknas, sejak masih bertugas di Balitbang maupun Biro Perencanaan dan Kerja Sama luar Negeri Kemdikbud.

Rembuknas memang diharapkan bisa menjadi ajang berbagi dan menemukan solusi konkret terhadap permasalahan dunia pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Seperti yang dituturkan Prof. Hanna dari Kantor Bahasa Sulawesi Tengah. “Saya harap Rembuknas ini bukan hanya pewacanaan, tapi juga ada kontribusi terhadap kemajuan pendidikan ke depan. Karena banyak orang yang berpikir bahwa rembuknas ini hanya rembuk-rembukan, tidak ada solusi. Jadi diharapkan ada tindak lanjut dari apa yg disepakati di sini. Untuk kantor bahasa, saya harap kantor bahasa bisa seperti unit-unit lain yang mendapatkan posisi yg sama,” tuturnya.

Salah satu solusi konkret Rembuknas yang mulai dijalankan pada tahun ini adalah kewajiban publikasi karya ilmiah di jurnal ilmiah, bagi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3. Mendikbud M. Nuh mengatakan, kewajiban publikasi tersebut merupakan rekomendasi dari hasil Rembuknas tahun 2010. “Jadi wacana ini dibahas sejak dua tahun lalu, bukan mendadak,” katanya. (DM)

Iklan
Categories: Berita | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: